Bhayangkara Insight.com
Bitung 8 Januari 2026
Kota Bitung diguncang angin kencang selama dua hari berturut-turut. Pohon tumbang, rumah warga rusak, dan aktivitas masyarakat terganggu. Namun di balik peristiwa alam ini, muncul kegelisahan publik yang jauh lebih dalam: apakah bencana ini hanya sekadar gejala alam, atau peringatan atas krisis moral para pemangku kebijakan?
Di tengah gencarnya pemerintah membicarakan pertumbuhan ekonomi, investasi, dan pembangunan fisik kota, para pelayan Tuhan dari lima agama justru merasa diabaikan, dipinggirkan, bahkan dipandang sebelah mata. Sejumlah tokoh agama mengungkapkan kepada awak media bahwa ada oknum pejabat yang secara terang-terangan menganggap pelayan Tuhan tidak memiliki kapasitas berpikir dan berkontribusi terhadap masa depan Kota Bitung.
Padahal, menurut para tokoh lintas agama tersebut, mereka adalah pihak yang tak pernah berhenti mendoakan Bitung—siang dan malam—agar terhindar dari bencana, konflik sosial, dan krisis kemanusiaan. Ironisnya, doa-doa itu kerap tidak terdengar, sementara jabatan, kekuasaan, dan kepentingan duniawi justru lebih diagungkan.
🇮🇩🤲 " Kami mungkin tidak duduk di kursi kekuasaan, tapi kami berdiri di hadapan Tuhan untuk kota ini,” ungkap salah satu pelayan Tuhan yang enggan disebutkan namanya.
Lebih menyakitkan lagi, beberapa pelayan Tuhan yang tidak populer, tidak memiliki akses kekuasaan, dan tidak dikenal elit politik malah dipandang rendah, seolah keberadaan mereka tidak bernilai. Padahal dalam sejarah dan keyakinan spiritual, justru doa orang-orang yang tulus dan rendah hati sering kali menjadi benteng terakhir sebuah kota.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat:
Apakah pembangunan ekonomi boleh berjalan dengan mengorbankan nilai spiritual, etika, dan penghormatan terhadap para penjaga moral bangsa?
Para tokoh agama mengingatkan, ketika moral para pejabat terus dibiarkan rapuh, sombong, dan menutup telinga dari suara nurani, maka alam dan sejarah kerap menjadi media peringatan. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kehancuran.
🇮🇩🤲 " Jika para pemimpin terus mengabaikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan, jangan heran bila Tuhan memperingati ciptaan-Nya dengan cara-Nya sendiri,” tegas salah satu tokoh lintas iman.
Masyarakat Bitung kini berharap, peristiwa ini menjadi cermin bagi para pejabat: bahwa membangun kota tidak cukup dengan angka dan proyek, tetapi juga dengan kerendahan hati, penghormatan terhadap pelayan Tuhan, dan kesadaran bahwa doa adalah fondasi tak terlihat dari keselamatan sebuah daerah.
Karena kota yang besar bukan hanya yang ekonominya tumbuh, tetapi yang moral para pemimpinnya tetap tegak.
( tem🤲 )


Social Header
Label
Categories